Keluarga cemara
Selamat pagi, Emak. Selamat pagi, Abah. Mentari hari ini berseri indah~

Hangat. Kata itu yang terlintas selama gue nonton film Keluarga Cemara. Film yang sangat hebat dari segala sisi, mulai dari musik, editing, pemilihan cast, dan yang terpenting: SKENARIO!

Sebelum nonton gue udah baca banyak review (yang no-spoiler) dan rata-rata reviewnya bagus-bagus banget. Tentu bikin espektasi gue jadi tinggi banget. Apalagi Keluarga Cemara adalah salah satu serial paling populer di tahun 90an. Rasanya ga ada anak seumuran gue (90s kids!) yang ga kenal Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil. Bahkan sampai sekarang kalau gue liat opak pasti langsung kebayang Teh Euis yang bawa opak di atas kepala.

Teh Euis bawa opak di atas kepala. Kredit: Youtube Sinema Keluarga

Hebatnya, film ini berhasil keluar dari bayang-bayang serialnya dulu. Ringgo Agus berhasil menghidupkan kembali karakter Abah yang sebenarnya sangat identik dengan sosok Adi Kurdi. Dalam hal ini, tugas Nirina sedikit lebih mudah karena Emak lebih ga ikonik, karena pernah dimainkan sama Lia Waroka, Novia Kolopaking, dan Anneke Putri.

Menurut gue, pemilihan timeline sebelum Agil lahir adalah sangat tepat. Sebelumnya gue agak skeptis, karena mana mungkin Euis dan Ara ga sama Agil? Tapi setelah nonton filmnya, rasanya emang pas banget. Ini kisah yang belum pernah kita liat sebelumnya. Kita cuma tau Abah jatuh miskin, tapi ga pernah liat gimana kejadiannya, ga pernah liat cara keluarga ini menghadapi perubahan hidup yang sangat besar. Dan itulah momen pelajaran hidup yang sangat berharga.

The scoring and theme song is BRILLIANT!

Rasanya film ini ga mungkin bisa sebagus ini tanpa pemberian ambience yang tepat sejak pertama kali film dimulai. Pemberian sound effect yang sangat detail serta sound track dengan lirik yang tepat, menambah nilai plus dari film ini. In other words, scoring-nya pas banget sama setiap adegan dan penempatan lagunya ga ada yang ganggu. Benar-benar terlihat bahwa musik dan lagunya adalah bagian tak terpisahkan dari film yang benar-benar dipikirkan dengan matang. Kudos to the team!

Gue emang lumayan sering nangis gara-gara nonton film,

tapi film ini adalah salah satu yang nangisnya terbanyak sepanjang masa. Film ini ga cengeng, ga sama sekali. Ga ada momen yang dibikin-bikin sedihnya. Tapi penonton justru dibuat terenyuh sama kehangatan yang ada. Gue udah mulai nangis di 10 menit pertama, saat keluarga Abah baru sampai di rumah baru dan dengan segala perubahan yang ada, si kecil Ara langsung menemukan kebahagian baru: Bermain di lapangan rumput yang luas! Euis pun ikut menemani Ara bermain, situasi yang ga gampang ditemuin pas mereka tinggal di Jakarta. Itu baru satu di antara banyak banget scene lainnya yang ga kalah hangat dan bikin nangis.

Kemampuan Gina S. Noer sebagai penulis skenario memang ga perlu dipertanyakan lagi. Jalan ceritanya sangat mengalir, manis dan lucu tanpa memaksa, dan sangat relatable sampai ke bagian yang detail. Gue inget dulu pernah bantu nyokap jualan snack, gue juga pakai lilin untuk ngelem plastik. Dan ekspresi wajah Euis saat bantu Emak is mind blowing! Kayak jaman kecil dulu kalau gue bantu nyokap dengan terpaksa.

Meskipun bete, tapi Euis tetap bantu Emak menyiapkan opak. Kredit: Youtube Visinema Pictures

Gue juga salut banget sama adegan Euis yang malu setengah mati pas mens pertama kali dan tembus, diledekin sama anak-anak cowok di kelasnya (seriously, boys at junior high are the worst!). Ceritanya bikin air mata gue terus ngalir, bahkan sambil ketawa gara-gara Ceu Salma dan keluguan Ara. Selain itu, tepuk tangan juga tentu harus diberikan untuk sutradara muda berbakat Yandy Laurens.

Apresiasi luar biasa harus gue kasih untuk casting director

yang memilih Ringgo, Nirina, Zara JKT48, dan Widuri Puteri sebagai bagian dari Keluarga Cemara edisi 2019. Rasanya skenario yang bagus banget sekalipun ga akan bisa terealisasi dengan baik kalau pemerannya ga pas.

Vulnerability covered with a smile-nya dapet banget. Sulitnya menanggung tanggung jawab sebagai orang tua dan sulitnya menjadi anak yang — pas banget lagi di usia puber — harus menerima kenyataan bahwa kondisi keluarga ga sama kayak sebelumnya.

Gue salut banget sama banyaknya air mata-air mata yang tertahan di kelopak dan turun perlahan-lahan ke pipi Emak, Ara, dan Euis. Yaampuun, rasanya pengen meluk mereka dan mau ga mau ikutan nangis juga.

Selain empat pemeran utama, para pemeran lainnya juga patut diacungi jempol. Gue suka banget liat teman-temannya Euis, kelihatan banget sesuai umur, ga keliatan ketuaan kayak di beberapa film lain.

Last but not least,

film ini berhasil menggambarkan pentingnya peran perempuan dalam kehidupan. Abah sebagai kepala keluarga dengan segala keterbatasannya tidak boleh lupa bahwa ada sosok Emak yang juga mampu membantu dan menjadi tempat berbagi tanggung jawab. Perempuan yang walaupun sedang hamil namun tetap bisa selalu memikirkan orang lain, terutama suami dan anaknya.

Ga hanya Emak, ada juga sosok Ceu Salma, seorang perempuan enterwoman (haha) yang ingin berkembang. Euis juga ikut membantu Emak berjualan opak sekaligus menerima kondisi Abah yang sedang sulit dengan dewasa, dan juga sekaligus harus menghadapi problema masa remaja di sekolah.

Leave a Reply