Mungkin semua orang (atau cuma gue?) kaget pas lihat Milly & Mamet jadi suami istri di AADC 2. Dan ga lama kemudian, Mira Lesmana mengumumkan rencana spin-off film Milly & Mamet — dan akan disutradarai dan ditulis oleh Ernest Prakasa.

Gue nonton semua film akhir tahunnya Ernest Prakasa, mulai dari Ngenest, Cek Toko Sebelah, Susah Sinyal, dan yang terakhir Milly & Mamet. And I have to say that the last one is the weakest.

It started out good….

Film ini dimulai dengan menceritakan awal dari kisah cinta Milly & Mamet. Gue suka banget karena kisah awalnya ga dipaksakan. Saat lagi reunian, Milly (Sissy Priscillia) yang dianggurin pacarnya akhirnya diantar pulang oleh Mamet (Dennis Adhiswara). Seperti formula romcom pada umumnya, kesialan pun terjadi: mobil butut Mamet mogok di tengah jalan. Milly yang tadinya bete justru nyaman bersama Mamet. Dan kisah cinta pun dimulai~

Genk Cinta reunian bareng Mamet. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Yang gue suka banget adalah bagian kolase foto-foto, menceritakan dari awal mereka pacaran, nge-date, lamaran, nikah, sampai akhirnya melahirkan Sakti dan film pun baru benar-benar dimulai.

Emang ceritanya gimana sih?

Keluarga kelas menengah beranak satu.
Keluarga kelas menengah beranak satu. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Milly & Mamet bercerita tentang kegalauan seorang Mamet yang punya passion pengen punya restoran sendiri tapi ga bisa diwujudkan karena harus bantu mertuanya (bokapnya Milly) jadi kepala konveksi. Di samping itu, Mamet harus realistis karena sekarang dia sudah punya anak, Sakti, yang harus dipikirin nasibnya.

Setiap hari Mamet hanya bisa menuangkan hobinya dengan memasakkan makanan-makanan favorit Milly. Lalu ia pergi ke konveksi yang tidak ia cintai sama sekali. Pada suatu hari, Mamet dimarahin sama mertuanya (alias yang punya konveksi) karena mengambil keputusan sendiri (FYI, bokapnya Milly punya trust issue). Meledak, Mamet akhirnya memutuskan untuk resign dari konveksi.

Mamet melotot.
Mamet memutuskan resign dari konveksi. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Apakah Mamet keluar dari konveksi lalu pengangguran? Oh tentu tidak. Karena sebelum dimarahin mertuanya, Mamet baru aja ketemu teman lamanya sesama siswa sekolah kuliner. Alex (Julie Estelle) menawarkan Mamet bekerja sama untuk membuat restoran sehat seperti impiannya. Mamet sudah lama memimpikan itu karena ayahnya meninggal akibat pola makan tidak sehat hingga diabetes.

Alex dan Mamet.
Mamet diajak buka restoran bareng Alex. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Gayung pun bersambut. Dengan keluarnya Mamet dari konveksi, akhirnya mereka mulai membangun restoran bersama dengan suntikan dana dari anak konglomerat (ga inget namanya, pokoknya yang main Yoshi Sudarso). Ga lama kemudian restoran pun buka, tentunya Genk Cinta ga lupa dateng pas opening.

Group photo.
Genk Cinta saat pembukaan restoran Chef Mamet. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Ga hanya itu, investor juga datang. Ternyata salah satu investor restoran ini adalah seorang politisi yang baru saja bebas karena dianggap tidak terbukti melakukan korupsi oleh pengadilan. Milly curiga bahwa investasi restoran ini adalah bagian dari pencucian uang. Tapi waktu Milly cerita tentang kecurigaannya, Mamet justru marah.

Sejujurnya kurang nangkep kenapa Mametnya semarah itu sama Milly. Tapi asumsi gue adalah karena beberapa hari sebelumnya Milly bilang mau balik kerja lagi setelah sempat vakum karena mengurus rumah tangga dan anaknya. Mamet saat itu juga udah marah-marah, bilang Milly ga kasian sama anak dan sebagainya. Padahal Milly mau kerja bantu konveksi yang ditinggalin sama Mamet (sebel ga sih???).

Mamet bertengkar dengan Milly.
Dibantuin malah marah. Gimana sih, Met? Foto dari Youtube Starvision Plus.

Long story short, kecurigaan Milly terbukti. Alex mengakui bahwa uang investasi restoran memang “tidak bersih” dan adalah bagian dari money laundering. Mamet yang diceritakan sebagai sosok yang jujur (FYI sepanjang film ga diperlihatkan, cuma pas ending dari konflik ini aja baru dikasih tau secara literal) marah ke Alex, mengundurkan diri dari restoran, dan meminta maaf sama istrinya karena udah ga percaya.

Terus kalau udah resign dua kali Mamet sekarang kerja apa dong? Kan dia punya anak yang harus dikasih makan?

Tenang, hidupnya ga susah kok. Mamet dan dibantu Milly membuka catering makanan sehat di rumah yang menerima pesan antar. Mamet bisa masak. Milly bisa punya kesibukan tapi ga perlu keluar rumah. Problem solved~

I’m not sure what to feel…

via GIPHY

Sebelum nonton Milly & Mamet, liat-liat review orang bagus-bagus (baru sadar kalo yang gue liat itu review yang di-retweet Ernest haha). Pas keluar bioskop kesel sendiri, itu siapa sih yang ngereview?

Menurut gue filmnya sangat jauh di bawah espektasi karena beberapa hal. Biasanya Ernest bisa menyajikan konflik keluarga yang terasa nyata, kalo pas nonton Milly & Mamet ini rasanya kayak nonton keluarga muda kelas menengah yang hobi cari-cari masalah di kehidupan yang sebenarnya ga ada masalah berarti. Ga relatable, padahal itu yang diusung-usung dari awal.

Pukpuk Milly.
Mamet pukpuk Milly yang lagi sedih. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Benang merah dari film ini rasanya cukup bagus: keluarga muda yang ingin mengejar passion. Yang menjadi kesalahan utama dalam film ini adalah berusaha memasukkan banyak konflik supaya ada dramanya, tapi ujung-ujungnya malah oversimplifikasi dari konflik itu sendiri. Jadi kesannya quantity over quality. 

Gue ga merasa diajak untuk memahami atau simpati sama kesulitan yang dihadapi Mamet atau Milly karena gue sendiri bingung, sebenarnya mereka kenapa sih? Salah satu contohnya, pas bokapnya Milly dapat surat dokter yang menyatakan kolesterolnya tinggi – itu nanggung banget! Bokapnya Milly ga masuk rumah sakit, ga sakit apa-apa, dan di akhirnya juga dia sehat-sehat aja bahkan kolesterolnya kembali normal. Nanggung amat yaaaaaaa.

Milly & Mamet juga mau nyinggung ke ranah isu sosial dengan ngomongin korupsi. Tapi juga nanggung banget. Si koruptor ga diperlihatkan melakukan kegiatan korupsi apa, cuma diceritain dan diduga aja. Dengan ga adanya konsekuensi yang dihadapi si koruptor, bukannya justru jadi kontraproduktif ya?

What a waste of great cast!

Dinda Kanya Dewi
Ekspresi melotot ala Miska. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Sejak film Susah Sinyal, kayaknya Ernest emang suka banyak-banyakin pemeran di filmnya ya? Di Milly & Mamet banyak banget pemeran di film yang ga punya signifikansi sama ceritanya. Mungkin kehadiran mereka memang diperuntukan untuk memanggul unsur komedi tapi akan lebih baik kalau bisa ditambah signifikansinya di cerita drama juga. Sayang banget, padahal aktingnya bagus-bagus!

Scene stealer yang pertama adalah Dinda Kanya Dewi. Emang dia ini lucunya kebangetan! Di screentime yang sedikit banget aja dia cukup bisa mencuri perhatian.

Isyana Sarasvati
Ngobrol sama ikan. Foto dari Youtube Starvision Plus.

Dan yang kedua, dan pasti di-notice semua orang, Isyana Sarasvati! Kalau follow Instagramnya pasti udah tau Isyana emang kelakuaannya kocak banget. Bahkan kelakuan ngomong sama ikan itu seperti terinspirasi dari Isyana yang suka pakai filter ikan di Instagram.

Kalau boleh kasih saran sebagai penonton, buat film-maker lain yang tertarik bikin romcom, simple is always better. Ga perlu konflik banyak-banyak, ga perlu cast segudang, yang penting konflik dan karakter yang kuat.

Leave a Reply