Berawal dari ketertarikan Kamila Andini dengan filosofi Bali mengenai dualitas kehidupan, Sekala Niskala – yang terlihat dan tak terlihat, film ini kemudian menceritakan kehidupan dua saudara kembar buncing (laki-laki dan perempuan). Tantri dan Tantra adalah saudara kembar yang selalu menghabiskan waktu bersama. Suatu ketika Tantra sakit keras dan perlahan kehilangan kemampuan indranya satu persatu. Tantra akhirnya harus terbaring lama di rumah sakit. Dan kita akan melihat bagaimana Tantri menghadapi rasa kehilangan saudara kembarnya ini.

Dalam film ini, Kamila Andini banyak menggunakan simbol-simbol untuk menggambarkan sesuatu. Seperti ketika menggambarkan konsep dualitas dengan kuning telur dan putih telur. Tantra dan Tantri selalu membagi telur mereka menjadi dua bagian ini. Putih untuk Tantri dan kuning untuk Tantra. Penggambaran ini cukup kuat sehingga kita benar-benar merasakan bahwa Tantra dan Tantri adalah suatu kesatuan layaknya sebuah telur. 

Ada satu adegan bisu yang sangat kuat dan disturbing buat gue, yaitu setelah Tantra sakit, suatu ketika Tantri memakan telur rebus dan mengorek telur rebus tersebut mencari kuning telurnya. Dan setelah dikorek-korek dengan panik dan sampai berantakan ternyata dia nggak berhasil menemukan kuning telurnya. 

Tantri yang kemudian menjalankan kehidupannya tanpa Tantra, seringkali terlihat ditemani anak-anak kecil berbaju putih yang tiba-tiba muncul dan mengepak-ngepakan tangan lalu berguling-guling kayak telur. Horor banget. Tanpa adanya sesi diskusi dengan Kamila Andini setelah selesai menonton film, gue cuma bakal mengira mereka adalah hantu anak-anak random. Anak-anak ini rupanya penggambaran dari yang tak terlihat. Mereka adalah empat saudara kembar gaib yang juga lahir bersamaan dengan lahirnya seorang anak, atau yang sering disebut dengan sedulur papat lima pancer

Sekala Niskala adalah art film yang bener-bener menggunakan kekuatan narasi visual. Nggak banyak dialog yang diucapkan, dan bagian mana yang merupakan kenyataan atau mana yang imaji Tantri seperti ketika ia bertemu dengan Tantra atau ketika ia menari-nari di sawah ditemani dengan anak-anak kecil berbaju putih juga nggak dijelaskan dengan gamblang. Cara ini sebenarnya bisa memunculkan banyak interpretasi yang berbeda-beda bagi setiap penonton. Tapi Kamila Andini mengaku tidak masalah dengan ini. Toh, menonton film adalah sebuah pengalaman pribadi.

Meskipun begitu, emosi yang ingin diungkapkan tetap sampai ke penonton. Desain suara, pengambilan gambar, pemilihan tone, tarian-tarian dan gerakan-gerakan tokoh-tokohnya, serta penggunaan lambang-lambang sepanjang film bikin film ini terasa sangat mistis dan magis, sekaligus bisa membuat kita ikut merasakan perihnya Tantri dalam usaha menerima kepergian Tantra.

Leave a Reply