Maaf…

Sebelumnya saya harus menyampaikan permintaan maaf ini di depan. Karena jujur tadinya saya tidak mau bicara panjang lebar mengenai hal yang dianggap sebagian orang receh yaitu ketidaknyamanan pribadi yang saya alami beberapa hari ini hasil dari menonton film Antologi Rasa karya Rizal Mantovani yang baru saja rilis 14 februari 2019.

Saya meminta maaf jika nanti pendapat saya menyinggung ribuan orang terutama teman-teman perempuan yang begitu mencintai kisah ini beserta seluruh karakter di dalamnya. Ada pula segenap tim produksi yang sudah bekerja sangat keras demi tersajinya film yang sudah dinantikan sejak lama ini. Tapi tak saya pungkiri, ketakutan terbesar saya adalah jika pendapat saya ini nantinya sampai ke telinga dan menyinggung sang empunya cerita yaitu Ika Natassa. Bagaimanapun juga semua yang akan saya sampaikan nantinya hanya merupakan perasaan seorang penonton dan pembaca yang kecewa. Tidak bermaksud menyinggung kalian yang memuja-mujinya.

Antologi Rasa bercerita tentang kisah cinta Keara yang “berantakan”. Sumber: YouTube Soraya Intercine Film

Secara teknis tidak ada yang cukup mengganggu 

Antologi Rasa bercerita tentang 4 banker yang telah bersahabat bertahun-tahun: Harris (Herjunot Ali), Keara (Carissa Perusset), Ruly (Refal Hady), dan Denise (Atikah Suhaime). Mereka diam-diam memendam cinta satu sama lain. Harris begitu mencintai Keara, Keara yang jatuh cinta dengan  Ruly dan Ruly yang hatinya hanya untuk Denise yang sudah menikah.

Secara teknis film ini tidak ada yang mengganggu, berbagai shot-shot indah dan mewah khas rumah produksi Soraya dan soundtrack yang catchy sepanjang film cukup menghibur siapapun yang menonton. Penulisan dan dialog antar karakter juga cukup mengalir dan luwes walaupun sepertinya terlalu banyak tambahan voice over yang tidak diperlukan.

Akting dari para karakter juga cukup baik terutama ketengilan Herjunot yang membuat kita bernostalgia dengan peran-peran dia terdahulu seperti di Realita Cinta & Rock and Roll dan 5cm. Sayangnya usaha Carrisa Perusset dalam memerankan Keara bisa disebut kurang berhasil mengimbangi dua tokoh utama lainnya yaitu Herjunot dan Refal Hadi yang bermain sangat apik.

Secara keseluruhan film ini adalah film yang efisien. Penceritaan fokus kepada para karakter utama. Walaupun minim sekali pendalaman karakter yang terlihat, di akhir film ini sukses menjadi film yang  tanpa basa-basi, sederhana dan tidak bertele-tele.

Lalu mengapa saya sampai sekecewa ini?

Apa yang dimaksud dengan consent? Sumber: shrcc.org

Romantisasi Pelecehan Seksual

Seperti layaknya kutipan dalam film ini, “Kalo dia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Kalau dia bikin lo nangis, itu tandanya lo cinta sama dia.” Film ini sukses membuat saya “tertawa” dan “menangis” sekaligus. Sayangnya tawa dan tangis saya bukan karena terbawa emosi dari kehidupan cinta mereka yang kata Keara “berantakan”, melainkan dari kemirisan yang saya rasakan ketika sadar lagi-lagi film romantis kita masih terjebak dalam kisah-kisah yang misogini.

Di film ini, ada suatu bagian yang bercerita bagaimana Harris dan Keara dalam keadaan mabuk berhubungan badan. Keesokan harinya Keara marah besar karena merasa dimanfaatkan sedangkan Harris kebingungan karena merasa telah mendapat lampu hijau yang berarti dia tidak bersalah sepenuhnya. Keara pun pergi, menjauh tak mau memaafkan Harris lagi. Harris sang penakluk wanita pun patah hati.

Miris rasanya melihat banyak sekali perempuan para fans garis keras Harris Risjad sang bad boy menyalahkan Keara karena sudah marah dan menjauh dari Harris setelah kejadian itu. Namun pada akhirnya kekecewaan saya memuncak ketika adegan Dinda sahabat perempuan Keara yang seharusnya berperan penting dalam konflik mereka menegaskan fakta bahwa Keara telah mencium Harris terlebih dahulu dengan demikian keputusan Harris untuk menidurinya tidak bisa disalahkan. Bagaimana bisa percakapan seperti ini masih terjadi diantara dua perempuan urban teredukasi dari kelas menengah ke atas? Sudah se-mainstream inikah budaya patriarki di hidup kita?

Sama seperti kata pembuka tulisan ini, penyelesaian konflik dari hubungan seks tanpa consent yang dilakukan Harris kepada Keara hanya diselesaikan dengan kata: maaf. Itu pun masih harus dengan seribu alasan yang Harris coba lontarkan salah satunya lagi-lagi karena mereka sama-sama mabuk dan Keara jelas-jelas mencium dia duluan. Film lalu bergulir, lambat laun Keara memaafkan dan mereka menyadari bahwa mereka saling mencintai. Romantis bukan? Bukan.

Bagian mana sih romantisnya dari sebuah perkosaan?

Tunggu-tunggu, bagian mana sih yang perkosaan kan mereka sama-sama gak sadar? Jawaban saya adalah SEMUANYA. Iya semuanya. Tanpa bermaksud menggurui, mungkin banyak teman-teman apalagi teman perempuan yang belum tahu bahwa meniduri orang dalam keadaan tidak sadar meskipun orang tersebut yang memulai adalah perkosaan. Menurut Tabu.id, jika setelah melakukan hubungan seksual dalam keadaan mabuk ada salah satu pihak yang merasa bersalah, menyesal dan kecewa artinya hubungan seksual tersebut sudah tidak dilakukan secara konsensual dan dapat dikatagorikan sebagai pelecahan seksual atau lebih parahnya perkosaan.

Rumit? Tidak. Intinya Keara tidak mengingat malam itu, setelahnya ia begitu marah dan kecewa. Di sisi lain Harris dengan centilnya memanggil dia sayang keesokan paginya. Dengan kata lain yang dilakukan Harris tak lain adalah sebuah pelecehan seksual yang diromantisasi. Bagaimana pun besarnya cinta yang ia pendam untuk Keara tidak sedikitpun bisa membenarkan apa yang ia perbuat malam tersebut.

Ah tapi ini kan sudah biasa. Namanya juga film.

Justru itu masalahnya. Kita sudah terlalu biasa meromantisasi pelecehan seksual dalam industri hiburan kita. Mulai dari Edward yang diam-diam menyaksikan Bella tidur di Twilight sampe bagaimana Derek menyalahgunakan kekuasaannya untuk menggoda Meredith di Grey’s Anatomy, kita sebagai perempuan cendrung luluh dan terenyuh. Devi Asmarani co-founder dari magdalane.co mengatakan bahwa kita menerima semua ini selama ini karena kita menganggapnya bagian dari hiburan sehingga tanpa kita sadari kita sendiri sebagai perempuan telah menganggap hal-hal seperti ini sebagai hal yang normal. Dengan menganggap normal hal-hal seperti ini dalam dunia hiburan. Kita secara tidak langsung terus memupuk bibit patriarki dalam kehidupan nyata.

Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Diskusi “Menuju Industri Perfilman yang Melek Gender bersama Mouly Surya, Ardina Rasti, dan pembicara lainnya. Sumber: Dara/The Cheesy Popcorn

Semua Punya Pilihan

Keluar dari bioskop setelah menonton film ini hati saya berkecamuk parah. “Serius nih segini doang? Gak ada penyelesaian apa-apa setelah diginiin?” kata saya dalam hati. Kesal rasanya melihat sebuah pelecehan seksual di depan mata selesai hanya dengan dibeliin bubur. Lalu bisa apa saya selain misuh-misuh di media sosial? Itu pun tidak saya lakukan secara gamblang karena saya tidak ingin menjadi korban amukan para fans atau juga dianggap SJW kesiangan.

Yang menarik adalah saya tidak bisa berhenti berpikir, salah siapa kah semua ini? Kalau mau mudah tentu saja tinggal menyalahkan sang pembuat film dalam hal ini sutradara, produser atau penulisnya. Tapi lalu saya berpikir, ini kan adapted screenplay ya? Yang berarti cerita ini sudah solid ketika masih dalam bentuk novel, dan novelnya ditulis oleh seorang perempuan. Masa iya saya harus menyalahkan penulisnya sepenuhnya? Bagaimana jika novel tersebut ditulis jauh sebelum pengetahuan tentang consent sampai ke telinga penulisnya? Apa hak saya sok tahu dan ingin mengkritik jalannya cerita milik orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus terpendam sampai kemarin sabtu 16 feb 2019 saya datang ke sebuah diskusi sekaligus peluncuran Mango Meter, sebuah aplikasi review film feminis di Goethe Institute yang bertajuk “Menuju Industri Perfilman Melek Gender”. Saya pun memberanikan diri bertanya mengenai apa yang semua pihak bisa lakukan dengan film-film seperti ini.

Mouly Surya yang saat itu menjadi pembicara pada mengeluarkan pernyataan yang sangat menohok saya. Beliau berkata “kita seringkali lupa bahwa semua orang punya pilihan.” Sutradara, penulis, aktor hingga penonton punya pilihan. Terkadang pilihan-pilihan tersebut memang beresiko, namun pada akhinya kita tetap harus memilih mau atau tidak mengambil resiko tersebut. Apresiasi tertinggi saya untuk Mouly Surya menyatakan bahwa ia selalu berusaha memilih tidak memuat hal-hal patriarki dan misogini dalan karya-karyanya.

Penulis skenario adaptasi tentu punya pilihan untuk tidak memilih sudut pandang yang menyudutkan perempuan. Aktor punya pilihan bagaimana mereka akan membawakan suatu karakter. Penulis karya original suatu cerita seperti Ika Natassa harusnya punya pilihan untuk tidak membiarkan rumah produksi salah menginterpretasikan karyanya. Dan yang terakhir penonton dalam hal ini saya dan kalian seringkali lupa bahwa kita punya pilihan. Sibuk misuh di media sosial atau memberikan sebuah kritik yang membangun.

Sekali lagi untuk semua yang menikmati film Antologi Rasa saya minta maaf kalau kali ini saya tidak bisa sepakat dengan kalian. Saya minta maaf saya harus menulis panjang lebar tentang hal ini. Semua ini semata karena saya percaya film ini seharusnya bisa lebih baik dari ini dan film romantis Indonesia sudah harus bisa keluar dari jebakan patriarki. Setidaknya saya sudah menggunakan pilihan saya untuk berbicara. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa membuka lebih banyak mata semua insan baik pembuat dan penikmat film Indonesia.

11 COMMENTS

    • Betul Mbak, saya sampai kasihan sama mbaknya karena minta maaf terus :’)
      Thank you for sharing Mbak, sudah saatnya orang2 tahu tentang consent hehe

  1. Hai Mba Dara…

    Berhubung Saya salah satu fans novel-novel Ika Natassa, jadi pingin komentar hehehe
    Film ini menyajikan secara tertip kontain di dalam novelnya.
    Buat pembaca Antalogo Rasa, efek monolog itu seperti ada yang membacakan novel di hadapannya.

    Tentang alur cerita, Saya setuju jika setiap orang dinyokong film ini punya pilihan mau dibawa kemana alur cerita ini tergantung objektifnya yang mau dicapai.
    Kalo objektifnya adalah menghibur penggemar novel Antalogi Rasa, berat rasanya untuk membelokan kejadian Singapura dan respon Keara atau Harris.

    Kalo menurut Saya, ideologi masing-masing penonton mempengaruhi penilaian terhadap film ini. Akan ada yang menganggap ini pelecehan, akan ada pula yang menganggap gaya pekerja muda di kota besar memang begitu.

    Tapi cara terbaik mengcounter sebuah karya adalah karya. Semoga semakin berwarna alur cerita perfileman kita

    • Terlepas dari apakah ini memang gaya hidup pekerja muda di kota besar atau bukan, tindakan seksual tanpa konsen tidak pernah dibenarkan. Saya lumayan kaget membaca ulasan novel ini di artikel lain yang menjabarkan kalau adegan tersebut tergambar jelas di novel, yang kemudian membawa titik masalahnya ke material aslinya/penulis novelnya.

      Akan tetapi, seperti kata penulis artikel di atas, kita tidak bisa menggurui karena mungkin saja memang Mbak Ika belum terpapar pelajaran tentang consent sebelumnya. Yang perlu disorot adalah bagaimana media dan penonton secara keseluruhan (termasuk produsen dan penggemar film ini) menormalisasi dan meromantisasi pelecehan seksual tanpa mereka sadari.

  2. Hi Dara, sabar ya.

    Aku setuju dengan pendapat kamu pengalaman ini pernah aku temui ketika membaca chicklit ‘Dealova’, yang populer banget di masa itu. Ada satu adegan dimana si karakter cowok yg menjadi ‘dreamy bad boy’ ini meninggal, kemudian protagonis cewek berkunjung ke kamarnya (karena mereka sudah pacaran? aku lupa sih). Di kamar itu dia melihat BAJU BASKET MILIKNYA YANG SUDAH LAMA HILANG ternyata dicuri dan dipajang di dinding kamar cowok itu.
    Pas aku komentar, “Ini creepy banget?”
    teman aku balas, “Iiih, ini romantis kaliii”

    Setelah ada filmnya, aku ngga mau nonton. Seleraku gak bagus-bagus amat, tapi aku sadar banget ini bukan film yang akan aku suka. Beranjak dewasa, ada beberapa teman yang sadar gestur itu ‘creepy’ dan ada juga yang sama sepertiku, dari dulu menganggap itu creepy. Tapi golongan yang bilang gestur ini ‘so-sweet’ juga ada.

    Jujur aku belum nonton film ini. Baca bukunya pun belum, karena kata teman-teman yang selera bukunya sama denganku bilang “jangan, lo akan marah bacanya”. Kemarin saya baru melihat review yang ditulis seorang cowok dan berkata, entah karena ini novel lama, kontennya sangat Toxic Masculinity. Singkatnya, terima kasih sudah menulis review seperti ini. Semoga bisa memberikan masukan kepada orang-orang yang memiliki pemikiran berbeda dengan Dara 🙂

  3. Sedikit alasan di atas setelah menonton film ini persis seperti yang saya rasakan tapi saya lebih simplenya. Begitu kelar film,setelah ending yg ciamik walaupun sangat klise di film romance saya bertanya-tanya “udah nih gitu doang”. Rasanya adegan2 itu ga membekas,berlalu gitu aja. Dan setuju tentang keara yang mungkin harusnya lebih dari itu . Ada 2 hal yang bikin saya ga terlalu menyesal nonton ini, akting herjunot ali yg mantep dan endingnya,setidak nya itu berakhir bahagia.

  4. terlepas dari ceritanya yg cringey dan eksekusi nya ga bagus,
    “consent” is a hot topic

    merhatiin gak bahkan walaupun sama-sama mabuk, harris nanyain keara “lo yakin key?”, keara hanya bilang “shut up and just kiss me”, pernah kepikiran gak, bahkan dalam keadaan mabuk begitu haris masih nanya buat consent?

    oke kalau misalnya nganggap ini semua PEMERKOSAAN walaupun dua-duanya sadar ga melakukan hubungan seks semalam, tapi apakah karena hanya keara menyesal dan ga ingat apa-apa terus jadi entitled untuk merasa ini pemerkosaan? trus boleh gak kalau harris nya kecewa dia nganggapnya ini PEMERKOSAAN juga?

    lalu ada yang hilang juga di film ini, kalau emang bener paham dan mengerti akan consent yg dicantumkan sebagai sumber gambar disini, tentu bisa kita pilah
    1. active
    (jelas dalam keaadaan mabuk harris masih bisa nanya konsen apa ga)
    2 equal power
    (dua2x sama2x mabuk jadi ga bisa consent dengan pikiran jelas, kalau ada yg kecewa misalnya cewe setelah sadar, akan sangat TIDAK FAIR untuk laki2x, it’s not about power relation or patriarchal bullshit)
    3 dan 4 ialah proses yang hilang di film, kita GA TAU APA YANG TERJADI SETELAH MEREKA CIUMAN DAN PROSES SEBELUM BERHUBUNGAN SEX, yang kita tau ialah pagi-pagi keara bangun ga sadar trus harris udah manggil sayang (yang menurut gue gk logis bangun2x udah manggil sayang, cringey af), mungkin bagian inilah yang membuat kontroversi ini muncul tentang masalah konsen, in reality kalau sama-sama mabuk trus sadar pagi, kecil kemungkinan ada cowo yang begini, jadi ini menurut gue lebih ketidakkonsistenan cerita yang dibuat penulisnya, sehingga terlihat harris sadar bahwa dia berhubungan badan sama keara yg lagi mabuk padahal malam sebelumnya haris juga mabuk, HARUSNYA YA, kalau emang mau menggambarkan harris memanfatkan keara, ceritanya ya misalnya pas detik2x mau berhubungan sex; harris sadar bahwa keara mabuk dan tetap melanjutkan ngesex, tapi ini GA ADA

    jadi alangkah baiknya mengambil nilai tengah yaitu emang skripnya ngaco ga based on reality, haris ga harusnya manggil sayang di pagi hari kalau misalnya ia ga sadar di malam harinya, tapi kita ga tau proses di malam harinya gmn, that’s why naskah film ini ga bisa dirunut secara rational

    kesimpulannya
    gue hargai pendapat mbak dara tentang film ini, gue percaya feminis di indonesia masih mencari formula yang tepat untuk gimana bisa menyebarkan value-value feminist yang positif dan tolerable sesuai konteks indonesia, tapi mohon maaf disini emang kelihatan sjw nya, mengangkat isu yang sebenarnya terlalu berlebihan dipandangnya atau lebih tepatnya salah kaprah aja
    peduli tentang pemerkosaan, microagression, consent itu penting dan gue dukung, tapi harus diingat lagi ke tujuan feminisme yang sesungguhnya bahwa wanita dan laki-laki sejajar dalam segala hal konteks hidup, bukan menjadikan perempuan sebagai privileged dalam konteks hidup meskipun sudah berapa banyak belakangan peradaban laki-laki ter-privileged

    • dear mba/mas suryowidiyanto, there is no wrong to put english subtitle there. teman tuli jadi bisa nonton antologi rasa + we’ll learn. its a simple conversation yg saya rasa ga perlu buka kamus buat ngartiin. have a good day ^^

Leave a Reply