Lalala Festival tahun ini kembali diselenggarakan di Orchid Forest Lembang. Hutan pinus cantik yang lagi sering dijadikan lokasi untuk foto prewedding ini lokasi yang menarik buat sebuah festival musik. Dan tahun ini Lalala Festival menggandeng 22 musisi lokal dan mancanegara yang akan dibagi dalam 3 stage, Ombre Stage, Navajo Stage, dan Lalala Stage sebagi panggung utama.

Sejak pukul 12 siang (2 jam sebelum gate dibuka) kemacetan mulai terjadi dari 1 km sebelum gerbang Orchid Forest (dari arah Subang). Untuk sampai ke lokasi acara, dari gerbang Orchid Forest pengunjung bisa menggunakan shuttle yang telah disediakan oleh panitia atau jalan kaki dengan jarak kurang lebih 2 km. Dan berhubung lokasinya adalah hutan di gunung, 2 km ini sudah pasti bukan jalan datar. Jadi ini nonton konser sekaligus hiking! Tips yang dibagikan di akun instagram @lalala.fest  sejak seminggu sebelumnya soal menjaga kebugaran ternyata nggak bisa dianggap remeh.

Sekitar 15 menit sebelum venue entrance dibuka, hujan turun cukup deras. Pengunjung langsung sigap memakai raincoat warna-warni. Meskipun nggak berlangsung lama, hujan ini cukup membuat jalanan dan sekitar panggung menjadi agak licin dan udara jadi semakin dingin. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat pengunjung untuk menikmati penampilan band-band pembuka di tiga panggung yang disediakan, seperti alunan nada Fourtwnty  dan dilanjut dengan Ardhito Pramono yang memang cocok buat sore-sore di hutan pada Navajo Stage, Sweet After Tears dan Murf di Ombre Stage dan menari bersama Project Pop dan bernyanyi bersama duo kembar asal Australia, Jayesslee di Lalala Stage.

Dilanjut dengan lineup yang semakin malam semakin seru di tiap panggung. Di Lalala stage sendiri sempat terjadi keterlambatan sekitar 45 menit sebelum penampilan Sheila on 7 dan hujan mulai turun lagi di tengah-tengah penantian. Keterlambatan ini membuat Sheila on 7 bermain dengan sangat padat, tidak banyak basa-basi dan gimmick. Keseruan Lalala Stage dilanjutkan dengan penampilan Crush dengan rambut merahnya yang menyala. Jadi meskipun hujan, panggung ini bukannya sepi, tapi malah semakin ramai.

Crush at Lalala Festival 2019

Panggung-panggung lain juga nggak kalah seru dan ramai. Seperti penuhnya panggung Navajo saat penampilan Jeremy Passion yang sempat dimajukan dan ditukar waktunya dengan Alextbh, juga serunya penonton Ombre Stage saat menyaksikan aksi Astronomyy.

Dan puncak keseruan adalah penampilan Honne yang mengumpulkan kembali pengunjung di Lalala Stage. Meskipun tanah di depan panggung sudah seperti lumpur, penonton tetap dengan asyik menikmati dan ikut bernyanyi di setiap lagu yang dibawakan.

Honne at Lalala Festival 2019

Sejarah Kelam Lalala Festival

Penyelenggaraan pertama Lalala Festival di tahun 2016 menimbulkan banyak keluhan. Akses menuju Lembang yang di weekend biasa pun sudah penuh perjuangan, ditambah dengan adanya acara ini membuat pengunjung harus menempuh waktu hingga 7 jam untuk sampai ke lokasi. Kondisi venue berupa hutan yang pastinya akan sangat becek kalau musim hujan juga sempat menimbulkan kekacauan. Tapi memang inilah risiko konser di luar ruangan, apalagi di tengah hutan. Kemungkinan bakal lumpur-lumpuran harusnya sudah dipersiapkan. Festival sekelas Glastonburypun juga mengalaminya.

Sejak penyelenggaraan keduanya di tahun 2018, Lalala Festival pindah ke Orchid Forest. Dan penyelenggaraan kedua ini cukup membuat pandangan tentang Lalala Festival yang buruk di tahun pertama berubah. Semacam pembuktian. Dan terbukti dengan antusiasme yang kembali meningkat di tahun ini. Mutiara, Co Founder dari Orchid Forest, juga mengaku tahun ini memang lebih besar dan jumlah pengunjung juga jauh lebih banyak dari tahun sebelumnya.

Apa yang terjadi di Lalala Festival 2019?

Di tahun ketiganya, Lalala Festival, yang pada awalnya direncanakan untuk terselenggara di bulan Maret namun harus dimajukan karena terlalu dekat dengan pilpres, menurut gue seperti kewalahan dengan jumlah pengunjung yang hampir 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. Kemacetan panjang tidak terhindarkan baik saat masuk maupun pulang. Ditambah lagi dengan akses dari gerbang sampai ke lokasi yang memang cukup sempit dan menjadi satu dengan pengunjung yang berjalan kaki, membuat antrian kendaraan yang cukup panjang. Antrian-antrian panjang juga terlihat di booth-booth makanan, booth air mineral yang hanya tersedia di dua lokasi, dan juga di depan toilet. Hal ini seharusnya menjadi perhatian The Group sebagai penyelenggara Lalala Festival untuk tahun-tahun berikutnya.

Perihal keamanan juga ketersediaan kru di lokasi menurut gue terjaga dengan sangat baik (terlalu baik malah). Seperti kru di persimpangan-persimpangan yang menunjukkan jalan, petugas keamanan yang berkeliling dan sesekali mengecek gelang tiket pengunjung, pengawasan ketat pada area-area terbatas seperti area VIP dan VVIP di dekat Lalala Stage, dan pemeriksaan super ketat di pintu masuk. Salah gue juga nggak membaca list prohibited items yang sudah diumumkan. Mengandalkan pengalaman datang ke konser atau festival musik sebelumnya, gue nggak menyangka bahwa selain akan menyita senjata tajam dan minuman, segala bentuk liquid (parfum misalnya), pembalut, tissue basah, permen dan obat-obatan gue juga disita. Namun untungnya panitia menyediakan tim medis yang tersebar di 3  lokasi.

Di luar itu semua, gue sangat menikmati Lalala Festival tahun ini. Area Orchid Forest yang dari sananya sudah cantik semakin cantik dengan hiasan lampu warna-warni, tirai bola pingpong, dan balon-balon putih. Kebayang dong, betapa syahdunya sore-sore sampai malam hari di tengah dinginnya udara lembang,  di bawah pohon-pohon pinus, dihiasi lampu-lampu warna-warni, dimanjakan dengan suara kicauan burung (yang ternyata setelah diperhatikan dengan seksama adalah suara dari speaker yang dipasang di sudut-sudut taman – jenius sih ini) sambil menikmati alunan lagu-lagu dari musisi-musisi kesayangan bersama orang-orang terdekat.

Photos: Galih Ilham Mey Setiawan

Leave a Reply